Langsung ke konten utama

Tepatkah Frasa Social Distancing digunakan?

Sudah beberapa bulan belakangan ini, seluruh dunia dikejutkan dengan virus misterius yang akhirnya di tetapkan dengan nama COVID19 atau Virus corona. Awal virus ini pun dimulai di Provinsi Hubei di China. Ketika virus ini menyebar ke seluruh permukaan dunia, tiap negara memiliki kebjakaan masing masing. Negara Indonesia belum terdeteksi pada awalnya. Hingga munculah press conference oleh Bapak Presiden Indonesia, Joko Widodo mengenai pasien positif virus corona.

Kebijakkan awal pemerintah Indonesia dalam pencegahan virus corona adalah social distancing. Ditulis oleh Yulaika di laman Tirto.id mengutip penjelasan dari Spesialis penyakit menular Steven Gordon, MD dari Cleveland Clinic menjelaskan, social distancing adalah upaya menghindari hadir di pertemuan besar atau kerumunan orang. Jika Anda harus berada di sekitar orang, jaga jarak dengan orang lain sekitar enam kaki (dua meter). 

Kebijakkan social distancing sendiri sudah diberlakukan di beberapa negara. Ketika Indonesia menerapkan social distancing, ternyata, banyak warga yang masih kurang sadar akan pentingnya social distancing pada saat penyebaran wabah virus corona yang masif. Banyak sekali pertemuan-pertemuan yang dilakukan tanpa jarak. Salah satunya di Laut Kamulyan Cilacap. Ketika penulis mengunjungi laut tersebut untuk sekedar melihat terbitnya matahari, banyak sekali warga yang duduk dengan santainya tanpa memberlakukan jarak tersebut. Lalu jarang sekali toko-toko yang dibuka seperti restaurant yang memberlakukan hal tersebut. Contoh yang dituliskan itu adalah ketika social distancing baru saja di umumkan oleh Presiden Jokowi.

Lalu pada tanggal 22 Februari 2020, Menko Kemenko Polhukam, Mahfud MD, mengatakan bahwa kebijakkan pemerintah diubah dari social distancing menjadi physical distancing. Yang pada pernyataan Mahfud MD mengatakan bahwa penggunakan kebijakkan social distancing dianggap kurang bagus oleh pemerintah. Lalu adanya physical distancing atau jarak fisik ini bisa menekan kembali untuk melakukan jarak fisik dari pada jarak sosial. Physical distancing ini menurut beliau diberlakukan atau lebih ditekankan karena anjuran dari WHO (World Health Organization) yang sebelumnya mengeluarkan pergantian frasa social distancing menjadi physical distancing.

Seperti yang dituliskan oleh Saba Aziz di laman Aljazeera mengutip ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove pada 20 maret, bahwa teknologi sekarang memiliki kemajuan yang baik, sehingga kita bisa tetap terkoneksi dengan banyak cara tanpa harus kontak fisik di ruangan yang sama atau kontak fisik bersama dengan banyak orang, kita mengubah menjadi physical distancing dengan tujuan ingin masyarakat untuk selalu terkoneksi. Pengubahan frasa ini pun sangat baik, sehingga orang-orang dapat lebih memahami bahwa kebijakkan physical distancing adalah, kita sebisa mungkin menjaga jarak secara fisik, seperti tidak perlu keluar tanpa kepentingan yang darurat, atau memberakukan kelas online di berbagai kampus dan sekolah SD,SMP, dan SMA, work from home, atau yang lainnya.

Penggunaan frasa physical distancing ini pun dianggap lebih tepat oleh WHO daripada social distancing. Terdapat beberapa orang yang salah kaprah dengan social distancing, karena masyarakat meyakini social distancing dapat menyebabkan isolasi sosial karena kita tidak bisa dekat secara sosial atau terhubung secara sosial. Sehingga pergantian physical distancing ini lebih mencegah perkumpulan lebih baik tidak dilaksanakan. Mengingat bahwa penularan COVID19 ini melalui droplet orang yang batuk atau bersin. Pada laman Aljazeera.com yang ditulis oleh Saba Aziz, 31 Maret, menyebutkan bahwa, Martin W Bauer, profesor psikologi sosial dan metodologi penelitian di London School of Economics mengatakan ’Itu sangat baik ketika WHO akhirnya mencoba untuk memperbaiki kesalahan awal dengan mengira jarak fisik sebagai jarak sosial.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pemaknaan social distancing dengan physical distancing itu tidak jauh berbeda. Hanya saja, penggunaan frasa physical distancing untuk mencegah penyebaran virus corona ini lebih baik untuk digunakan. Masyarakat menjadi tidak salah kaprah terkait dengan social distancing yang sama dengan isolasi sosial. Pada kenyataannya, itu sangatlah berbeda. Akhirnya, penggunaan physical distancing lebih ditekankan untuk kebijakkan pemerintah sekarang sebelum adanya kebijakkan lanjut dari pusat.

Referensi

Komentar